Jangan Berlarut-larut!

Pagi ini menemukan suatu kisah sahabat yang sangat baik untuk direnungkan, disimak saja :-)

Suatu kali, Rasulullah SAW selesai sholat subuh. Beliau menghadap kepada para sahabatnya dan menanyakan kepada mereka, “Siapa yang pagi ini berpuasa?

Umar berkata, “Wahai Rasulullah, semalam aku tidak niat berpuasa, hari ini aku tidak berpuasa”.

Abu Bakar berkata, “Semalam aku tidak niat berpuasa, tapi hari ini aku tetap berpuasa”.

Rasulullah lalu bertanya, “Siapakah yang hari ini menjenguk orang sakit ?

Umar berkata, “Wahai Rasulullah, kita belum keluar sejak kita sholat tadi, bagaimana kita bisa menjenguk orang sakit ?”

Abu Bakar berkata, “Aku mendengar bahwa saudara Abdurrahman Bin Auf sakit, maka dalam perjalanan tadi aku mampir ke rumahnya untuk melihat keadaannya”.

Rasulullah SAW bersabda, “Apakah hari ini ada yang sudah memberi makanan kepada orang miskin ?

Umar berkata, “Wahai Rasulullah, kita baru saja sholat dan belum keluar”.

Abu Bakar berkata, “Aku masuk masjid, di sana ada peminta-minta. Di tangan anakku, Abdurrahman, ada sepotong roti. Aku mengambilnya dan memberikan kepadanya”.

Umar berkata, “Tidak ada perbuatan baik kecuali Abu Bakar telah mendahuluiku”.

Amal itu sejatinya adalah buah dari keimanan. Barangsiapa baik imannya, amal akan mengikutinya. Teringat akan cerita dari al akh, beliau pernah mengatakan, ada salah seorang temannya yang tidak mau memimpin syuro kalau malam hari sbelum syuro tersebut bliau tidak ber qiyamullail, ada lagi yang mengatakan tidak akan tidur sebelum menyelesaikan targetan tilawahnya 2 juz hari itu. Maka adalah wajar kalau dalam kondisi keimanan terbaik keberkahan Allah itu datang dalam amal-amal dakwah kita dan sebaliknya sungguh wajar kalau timbul pertanyaan mengapa agenda-agenda dakwah terasa hambar ? hanya mendaptkan capek, dsb. Boleh jadi karena agenda-agenda yang kita lakukan jauh dari keberkahan Allah, hanya sebatas teoritis belaka, Wallahu’alam

Lantas apa yang terjadi pada diri kita hari ini ? hampir setiap waktu kita habiskan di dunia maya; Blog, YM, facebook dan twitter. Coba bandingkan dengan waktu yang kita gunakan untuk beribadah kepada Allah! Naudzubillah, semoga ini tidak berlarut-larut..

Menjaga Keberkahan Dakwah dalam Aktivitas Dakwah Kampus

Dikisahkan dalam perang Qadisyah yang sedang berkecamuk, tiba-tiba panglima Sa’ad bin Abi Waqqash mencekal seorang prajurit yang gagah berani dan paling ksatria, Abu Mihjan namanya. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Ketidak bolehan ikut berperangnya beliau lantaran datang perintah khusus dari khalifah Umar di Madinah untuk membersih-kan pasukan dari orang-orang yang masih suka melakukan maksiat. Ternyata Abu Mihjan selain menjadi seorang prajurit yang handal juga terkenal sebagai penyair yang masih sering memuja khamar. Atas kelakuannya itu, Abu Mihjan harus mendekam dalam penjara benteng Qadisyah sementara pasukan muslim lainnya maju ke Medan tempur.

Setelah bertobat dan berjanji tidak mengulanginya lagi, baru dia dibebaskan dan boleh ikut dalam jihad itu lagi. Hal ini dilakukan oleh Umar dan Sa’ad bin Abi Waqqash lantaran yakin bahwa kemenangan itu tidak akan turun kecuali kepada hamba-hamba-Nya yang suci dan selalu mendekatkan diri kepada-Nya serta tidak melakukan banyak maksiat dan dosa.

Lantas apa yang terjadi dalam Dakwah Kampus hari ini?
Fenomena menarik yang perlu kita cermati adalah bagaimana prilaku para aktivis dakwah kampus (ADK-red) saat ini? Saat menuju mihwar dauli ini, maka dakwah pun kian berkembang, khususnya pada dakwah kampus. Hal ini berimplikasi pada banyaknya agenda-agenda dakwah yang dilakukan di kampus, intensitas pertemuan ikhwan-akhwat pun tidak dapat dihindari sehingga menjadi suatu hal (aktivitas) yang tidak tertinggalkan setiap harinya. Bahkan mengadakan pertemuan tanpa hijab (tabir pembatas ruangan laki-laki dan perempuan), sering menelepon membahas agenda urgent untuk syuro (baca: rapat) selanjutnya, mengirim sms, misscall untuk mengingatkan jam syuro sudah dimulai, chatting, e-mail dan sarana telekomunikasi lainnya telah menjadi corak yang mewarnai pergaulan ikhwan-akhwat hari ini. Kelonggaran ini kian terjadi dan terus merambat ke hal-hal lain. Misalnya beberapa waktu yang lalu dengan dikoordinir lembaga dakwah kampus mengadakan rihlah bareng ikhwan-akhwat ke luar kota dan menginap selama beberapa hari. Padahal jika kita mengingat-ingat aktivitas semacam ini nyaris tidak pernah dilakukan pendahulu dakwah kampus. Lalu kalau agenda-agenda semacam ini diikuti oleh lembaga dakwah fakultas, bagaimana? Karena sudah ada pembenaran contoh sebelumnya.. Ntah apakah memang sudah menjadi tuntutan zaman, kalau aktivitas-aktivitas semacam itu harus dilakukan bersama-sama atau seperti apa?

Paling tidak ada beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya fenomena-fenomena di atas:
Pertama, pemahaman. Walaupun telah dipenuhi atribut sebagai aktivis dakwah kampus, masih banyak yang belum faham tentang bagaimana pergaulan antaraktivis itu sendiri. Demikian juga norma-norma yang lain.
Kedua, ukhuwah yang mandeg di tengah ADK. Ukhuwah sesama akhwat yang renggang menyebabkan seorang akhwat lebih suka curhat kepada seorang ikhwan. Atau sebaliknya, karena sibuk menghandle beberapa kegiatan, akhirnya kurang arif melihat bahwa di antara sesama ikhwan ada yang sedang mengalami masalah prbadi. Kadang-kadang kecenderungan yang terjadi lebih ke lawan jenis daripada kepada sesamanya. Fenomena inilah yang harus disikapi lebih awal. Ikatan hati antara akhwat dengan sesama akhwat, dan ikhwan dengan sesama ikhwan harus diperkuat.
Ketiga, kurang kontrol, baik dari murabbi atau dari dewan pembina lembaga dakwah kampus. Seringkali yang muncul adalah komentar-komentar tanpa solusi konkrit. Tidak jarang pula karena tidak ada rujukan yang benar-benar dapat dijadikan teladan. Hal ini cukup dilematis bagi aktivis yang berstatus junior yang ingin proaktif.

Sebagai ADK kita perlu menyadari bahwa dakwah itu suci dan tidak mungkin ditempuh dengan cara yang tidak suci. Jangan sampai aktivitas dakwah akan kehilangan keberkahan dan keistimewaan yang mesti dimilikinya. Jika sudah demikian, lalu apa bedanya kita dengan yang lain?.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menggurui tetapi lebih mengingatkan kita semuanya. Karena tentunya kita tidak ingin menjadi manusia yang merugi. Allah telah berfirman dalam al-Quran Surat al’Ashr: 1-3, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal.
Wallahu ‘alam

Inilah Jalan Ku..

Tanpa terasa hampir 10 semester telah kulalui di kampus tercinya ini.. suka duka pun sudah sering dirasakan…

Dulu Zainal yang tidak tahu apa2 tentang Dakwah Kampus,,, lalu mulai bergulat di dalamnya mulai dari ikut2an acara yg diadakan oleh LDF KALAM FT, lalu staf kaderisasi n menjadi Ketuanya. Tidak hanya sampai disitu saja tapi berlanjut juga di LDK UKM Nadwah Unsri dalam tataran kampus, dan sekarang di Puskomda FSLDK Sumsel.. hingga sekarang pun aktivitas2 tersebut tidak bisa dilepaskan… kesimpulan “sederhana” setelah melalui fase2 tersebut yaitu “Semakin banyak tahu, maka semakin banyak PR2 yang harus dikerjakan dan diselesaikan!”

Ikhwahfillah banyak evaluasi2 pribadi yang ana lakukan, sehingga ana sadar akan kekurangan2 pada diri ini… Salah satunya kuliah ku!!! Banyaknya aktivitas dakwah yang dilakukan mau tidak mau suka tidak suka berimbas pada waktu yang seharusnya digunakan u/ kuliah menjadi tersedot (Ana sadar ini murni kesalahan ana pribadi yang tidak bisa memanage waktu dengan baik!!!). Di tengah kesadaran ini ana berkata dalam hati “kedepan kuliah harus menjadi prioritas dan butuh perhatian yang cukup serius bagi aktivis dakwah kampus!!!” Jangan sampai ada yang merasa terdzholimi/ adanya ikhwah yang mendzholimi saudaranya… Bayangkan tatkala satu persatu kawan2 ammah mulai wisuda lalu diikuti o/ kawan2 ADK se-angkatan membuat semakin sulit rasanya u/ tetap bertahan di medan ini.. (Dalam hati ana berpikir, apakah kawan2 ikhwah yang sudah wisuda tidak pernah memikirkan para asatidz dakwah kampus yang sudah di penghujung massa kuliah pun sampai sekarang skripsinya blm terselesaikan!!! atau seperti apa? Walahualam) Ana tidak mempermasalahkan jika ada ikhwah yang tamat cepat bahkan cumlaude sungguh prestasi yang patut dibanggakan bagi seorang Aktivis Dakwah Kampus (ADK) tapi yang ana pertanyakan adalah sudahkah ikhwah tersebut mempersiapkan regenerasi yang lebih baik dari dia or minimal sama dengan dia? Silakan dijawab…

Di tahun kelima ana dalam geliat dakwah kampus Unsri pun, ternyata PR2 yang ada juga masih banyak yang belum terselesaikan… Padahal setiap kali bertemu adik tingkat angkatan 2006 (ADK) mereka selalu berkata insyaAllah ana “skripsi” tahun ini,, (Lantas agaimana dg kampus ini!!!) Sungguh semakin berat rasanya!!

Ikhwahfillah bagaimana dakwah ini mau maju dan berkembang bila aktivisnya hanya mementingkan kepentingan/ ego nya sendiri!!! Distorsi pemahaman terhadap dakwah kampus pun sudah terjadi sedangkan sarana2 u/ mengupgrade pun tidak diikuti secara serius (hanya dianggap biasa2 saja), pertemuan2/ syuro sudah dianggap tidak penting lagi, yang penting hanyalah bagaimana kesuksesan kuliah ku!, nilai bagus dan bisa memulai entrepreneur sedini mungkin.. Sehingga yang ana rasakan saat ini sudah sangat jauh dari yang ana rasakan ketika ana baru masuk ke kampus tercinta.. Ntah apakah memang marhalah/ mredang yang dihadapi mungkin sudah berbeda dengan ketika itu or seperti apa,,

Walau sulit tapi inilah jalanku, ana azzamkan pada diri ini u/ bisa sukses dalam segala hal (Study maupun organisasi). Semester ini aku harus bisa fokus kuliah karena ada satu mata kuliah yg mw ku perbaiki hngga hrs mnunggu smpai semester nie usai baru bisa memulai menyusun skripsi.

Maka, inilah jalanku mudahkan hamba Mu ya Robb dlm menapaki jaln ini…

Wallahu’alam bishowwab

Palembang, 13 April 2010 M/ 28 Robiul Akhir 1431 H

Kunci Kemenangan Dakwah

Dalam perjuangan dakwah, Rasulullah SAW berhasil menegakkan kalimat tauhid di masyarakat dalam tempo 23 tahun. Dimulai dari seorang diri, hingga berkembang sampai pada kita saat ini. Namun jika kita tinjau, sebenarnya di manakah kunci kemenangan dakwah Rasulullah SAW? Apakah kemenangan dalam perang Badar, Fathul Makkah, atau penaklukan suku-suku besar bani Tsaqif dan Hawazin di Thaif?

Sayyid Quthb menyatakan, bahwa titik-titik penting kemenangan beliau bukanlah pada kejadian-kejadian tersebut. Kemenangan hakiki terletak tatkala keimanan mulai bersemi di dada para da’i dan pengikutnya serta keimanan yang mendalam dan lurus, itulah hakikat kemenangan! Inilah gejala dakwah; manisnya iman yang dirasakan Rasulullah SAW, keimanan Abu Bakar Ash-shidiq, teguhnya keyakinan tatkala disiksa, serta luluhnya hati umar tatkala mendengar ayat Al-Qur’an.

Ada tiga hal pokok yang diperlukan dalam mencapai keberhasilan dakwah, yakni jiwa yang bersih, soliditas struktur gerakan dakwah yang bagus, serta program yang terprogram rapi dan berkesinambungan. Jiwa yang bersih merupakan modalitas utama bagi para pelaku dakwah. tanpa ini, tak akan mungkin tercapai kemenangan hakiki dalam dakwah.

Di dalam jiwa yang bersih itulah keimanan bisa ditumbuhkan dengan kukuh. di dalam jiwa yang bersih itu pula tertanam tekad yang kuat membaja untuk melakukan kebaikan, membela kebenaran, dan menegakkan keadilan. Di dalam jiwa yang bersih itu pula muncul kecintaan untuk memperjuangkan risalah ilahiah serta menolak berbagai kemungkaran dan keburukan dalam kehidupan.

Dengan hati yang bersih, terbersihkan pula niat dalam melaksanakan seluruh aktivitas kehidupan, termasuk dalam kegiatan dakwah, sehingga dakwah menjadi berkah, terbentengi pula dari kecenderungan nafsu yang menghancurkan, juga terjaga dari membeloknya motivasi dan kemuliaan. Di dalam hati yang bersih tertanam semangat tak terkalahkan. Dakwah akan berjalan dengan penuh dedikasi dan tak kenal henti. Dan lawan dari jiwa yang bersih adalah jiwa yang kotor yang disebabkan oleh maksiat yang dilakukan.

Sangatlah menarik pesan yang disampaikan Khalifah Umar bin Khatthab tatkala memberangkatkan pasukan perang yang di pimpin Sa’ad bin Abi Waqash yang hendak melawan Persia, yang penduduknya menyembah api. Saat itu, 30.000 mujahidin siap berangkat ke Al-qadisiyah, berbatasan dengan negri Kisra. Sebelum mereka berangkat berperang, Khalifah Umar r.a. memberikan wasiat sebagai berikut: “Bismillah wa ‘ala barakatillah. Wahai Sa’ad bin Abi Waqash, janganlah engkau tertipu dan sombong lantaran engkau adalah paman Rasulullah SAW dan salah seorang sahabatnya. Ketahuilah, semua orang di mata Allah, baik bangsawan maupun bukan, adalah sama. Di sisi Allah, hamba yang paling mulia adalah yang paling bertaqwa kepada-Nya”

“Ya sa’ad. aku wasiatkan kepadamu dan kepada pasukanmu, agar senantiasa bertakwa kepada Allah. kalau kita melanggar perintah-Nya, berarti kita sama dengan musuh-musuh kita dalam bermaksiat. Padahal musuh kita jauh lebih besar, baik jumlah pasukan maupun perlengkapan perangnya. Dengan demikian, bila kita telah melakukan maksiat, maka dengan mudah mereka akan menghancurkan kita!”

“ya Sa’ad, aku tidak takut pasukan kita akan dikalahkan oleh musuh, tetapi yang aku takutkan adalah bila pasukan kita melakukan dosa. Selamat jalan, ya Sa’ad, semoga Allah selalu memberkati dan melindungimu!”

Demikianlah pesan khalifah Umar r.a kepada pasukan Islam yang nantinya mencapai kemenangan dalam peperangan di Qadisiyah. Khalifah Umar justru lebih mengkhawatirkan perbuatan maksiat yang dilakukan oleh pasukan Islam daripada realitas musuh itu sendiri.

Maksiat memang berpotensi menyebabkan kegagalan dan kehancuran gerakan dakwah. Citra diri da’i dan dakwah akan rusak, umat kehilangan kepercayaan, dan pada akhirnya kebaikan bisa terabaikan. Dan maksiat juga bisa menyebabkan dakwah ini tidak berkah.

Ikhwah fillah …

Mungkin ketidak berhasilan kita dalam menyeru di jalan ini karena kita banyak bermaksiat kepada-Nya. Karena kita sering lalai (bergurau, bercanda dan tertawa yang tidak perlu dan berlebihan) . Karena jiwa kita adalah jiwa yang kering tanpa makna. Karena hati kita kotor. Karena kita menyeru manusia kepada diri, bukan kepada Allah. Karena kita mengharap pujian dari manusia bukan pujian dari Allah. Karena kita menginginkan kemuliaan lembaga bukan kemuliaan agama-Nya. Karena kita sombong dengan sedikit pemahaman yang telah Allah karuniakan. Karena dalam hati kita terbersit atau seringkali dipenuhi rasa iri dan dengki. Karena kita hanya bisa berkata-kata, bukan melakukan apa yang kita katakan. atau juga karena kita lupa berdo’a dan memohon kepadanya. Lalu… Pantaskah jika kita mengharapkan pertolongan-Nya padahal kita bergelimang dosa ?

Ikhwah fillah …

Selagi kita masih diberikan kesempatan untuk hidup, maka gunakanlah untuk bertaubat. Selagi kita masih di awal perjalanan, maka perbaiki kembali orientasi kita, selagi masih banyak yang peduli dan memperhatikan kita, maka bersyukur dan bergembiralah karena kita tidak sendiri mengemban amanah dakwah ini. Mudah-mudahan Allah berkenan memberikan rahmat dan keberkahan-Nya kepada kita semua dalam menjalankan amanah dakwah di Pusat Komunikasi Daerah Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus Sumatera Selatan (Puskomda FSLDK Sumsel).

“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi. Ya allah berilah rasa takut kepada-Mu, yang dapat menghalangi dengan rasa takut itu antara kami dan bermaksiat kepada-Mu, berilah kami ketaatan kepada-Mu yang dapat menyampaikan kami dengannya ke surga-Mu.Ya Tuhan kami, terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar dan Maha mengetahui. Dan kami bertaubat kepada-Mu, sesungguhnya Engkau Maha peneriam taubat dan Maha Penyayang.ya Tuhan kami berilah kami kebaikan di dunia dan akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka.”

Wallahualam

Milad Ke-9 Nadwah Sebagai Titik Tolak Evaluasi

Tanpa terasa hari demi hari berlalu tahun pun berganti tepat hari ini tanggal 4 Februari 2010 UKM Nadwah Unsri memperingati Milad (hari Lahir) yang ke-9 tahun. Sungguh wajihah dakwah ammah ini sudah diusung oleh para ksatria dakwah secara bergantian.. Dan tahun ini amanah tersebut diamanahkan kepada akh Rica Winsyah (FP’06).

Dalam perjalanannya sungguh banyak hal yang perlu di evaluasi, paling tidak ada tiga point penting dalam evaluasi nadwah yang menyangkut pembinaan internal, AMKAI, dan Pusat Komunikasi Daerah (Puskomda). Perbaikan pembinaan internal seperti dalam proses kaderisasi adalah sebuah kunci dari organisasi. Tidak dapat disangkal lagi bahwa Nadwah sering kali kehilangan kader karena pembinaan dan penjagaan yang kurang baik. ”Di awal kepengurusan jumlah pengurus yang terdata cukup banyak, namun diakhir kepengurusan ternyata tinggal berapa yang aktif?”. ADK adalah manusia biasa yang perlu diperlakukan selayaknya manusia! Yang membutuhkan motivasi ketika kemalasan datang, diingatkan ketika banyaknya aktivitas yang membuat terbengkalainya amanah, dan lain sebagainya. Apa yang terjadi selama ini? Saat ini kaderisasi Nadwah belum mampu mewujudkan itu semua.. Perbaikan-perbaikan terus menerus dilakukan, pematangan konsep, grand desain departeman PPSDM pun sudah mulai dibahas secara serius! Suatu harapan besar agar alur kaderisasi wajihah LDK ini kedepan bisa membentuk kader-kader yang memadai dalam mengemban amanah di dakwah ammah ini.

AMKAI juga menjadi isu penting, keinginan yang besar untuk memperluas dakwah sampai ke Unsri ekstension yang kampusnya berada di Palembang telah dibuka lebar oleh pihak rektorat tapi dikarenakan sistem yang ada masih belum mampu berjalan dengan baik sehingga membuat kesulitan dalam mengambil kebijakan, sehingga berakibat kepada tidak maksimalnya AMKAI di Unsri ekstension. ’Legalisasi’ AMKAI yang sampai saat ini masih sebatas perkataan tanpa ada kesepakatan hitam di atas putih membuat legalisasinya masih dipertanyakan keabsahannya? Adanya dosen MKU Agama Islam yang tidak mau menerima nilai AMKAI dan tidak mau tahu menahu tentang AMKAI merupakan kondisi nyata saat ini.. Buku AMKAI yang tujuannya bisa membantu pendanaan dalam pelaksanaan AMKAI itu sendiripun malah membuat Nadwah (BSOM-red) malah merubah fokusnya yang seharusnya membahas pelaksanaan dan follow up AMKAI secara baik dan tekendali malah menjadi mencari dana untuk mengembalikan pinjaman yang jumlahnya tidak sedikit.. Belum lagi evaluasi kualitas dan kuantitas tutor yang masih belum memadai. ’Tutor yang berkaliber Murobbi’ yang didengung-dengungkan selama ini pun terkesan hanya sebatas wacana! Sanggar tutor yang seharusanya menjadi ajang ’curhat’ dalam pembelajaran menjadi seorang tutor pun tidak berjalan maksimal.. Akibatnya rekrutmen hasil DPP1 maupun DPP2 pun tidak maksimal adanya.. Belum lagi Sungguh permasalahan yang sangat kompleks yang harus segera sama-sama kita carikan solusinya!

Semenjak adanya Puskomda FSLDK Sumsel-Babel sampai sekarang berubah menjadi Puskomda Sumsel saja Nadwah selalu diamanahkan sebagai Koordinator Puskomda FSLDK Sumsel. Hasil evaluasi perjalanan Puskomda pada periode sebelumnya maka diambil kebijakan untuk mengamanahkan Tim Puskomda FSLDK Sumsel kepada alumni Nadwah yang tidak berada di kepengurusan lagi tetapi masih aktif kuliah. Dalam perjalanannya kerja-kerja yang dilakukan tidaklah optimal adanya. Komunikasi-koordinasi dengan kepengurusanpun jarang terjadi. Puskomda yang seharusnya terus memantau perkembangan Lembaga Dakwah Kampus pada setiap daerah yang ada di Sumsel, dalam perjalanannya terkesan ”menunggu” kondisi sekitar.. Kalau ada LDK yang membutuhkan baru ada respon dari Puskomda sedangkan kalau tidak ada maka Puskomda pun cenderung pasif. Padahal Bulan Juli 2010 nanti akan ada FSLDKD Sumsel yang diamanahkan kepada LDK Ukhuwwh Unbara Baturaja, tetapi komunikasi punbelum maksimal adanya.

Afwan jiddan kalau dalam penulisan ini banyak terdapat kesalahan dan kekurangan. Kepada Nadwah yang merayakan Miladnya yang ke-9 kita semua berharap mampu menunjukkan eksistensinya. Dia harus bisa menjadi contoh dalam gerakan dakwah di Sumatera Utara bahkan kelak menjadi icon baru di tingkat nasional. Selain itu semakin tua umur organisasi maka semakin matang organisasi tersebut dalam menyiapkan SDM-SDM yang siap berkontribusi demi dakwah dimanapun, kapanpun! Mohon masukan dan kritiknya.

Wallahu’alam bishowwab…

* Ditulis dalam rangka memperingati tepat sembilan tahun didirikannya UKM Nadwah Unsri 4 Februari 2001 – 4 Februari 2010

Fenomena “Hijab” antara Ikhwan dan Akhwat

Dulu ana pernah dapat cerita dari para masyaikh dakwah di Unsri kalau ada seorang ikhwan dan akhwat berpapasan di jalan maka tidak akan ada komunikasi selagi memang tidak ada hal urgent yang harus dibicarakan, kalaupun terpaksa harus berkomunikasi di jalan tersebut maka keduanyapun menjaga pandangannnya masing2. Hal ini berlangsung ketika dakwah masih pada fase awal, ketika aktivis dakwah masih sedikit n pemikiran juga masih bersih (belum terkontaminasi). Wallahualam..

Seiring dengan perkembangan dan manuver-manuver dakwah yang dilakukan maka berimbas juga pada intensitas pertemuan Ikhwan-Akhwat pun tidak dapat dihindari. Namun apakah mereka turut mereformasi hijabnya seiring dengan tuntutan zaman? Mengadakan pertemuan tanpa hijab (tabir pembatas ruangan laki-laki dan perempuan), sering menelepon membahas agenda urgent untuk syuro (baca: rapat) selanjutnya, mengirim sms, misscall untuk mengingatkan jam syuro sudah dimulai, e-mail dan sarana telekomunikasi lainnya telah menjadi corak yang mewarnai pergaulan Ikhwan-Akhwat. Jika kelonggaran ini terus merambat maka dikhawatirkan aktivitas dakwah akan kehilangan keistimewaan yang mesti dimilikinya. Jika sudah demikian, lalu apa bedanya kita dengan yang lain?.

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab turunnya hijab di kalangan aktivis dakwah:

Pertama, pemahaman. Walaupun telah dipenuhi atribut sebagai aktivis, masih banyak yang belum faham tentang hijab itu sendiri. Demikian juga norma-norma yang lain. Banyak di antara mereka yang ’tersandung’ terlebih dahulu baru kemudian benar-benar memahami urgensi hijab bagi perjalanan dakwah yang sedang diperjuangkan. Kendati pemahaman dapat diasah melalui bacaan, pengalaman memang lebih mengena ke sanubari orang yang mengalaminya. Baca entri selengkapnya »

Pengurus Baru; Semangat Baru!!!

Tak terasa satu bulan yang lalu Musra ke-9 NADWAH UNSRI telah dilaksanakan, nakhoda pun sudah berganti. Kepada Ketua umum Nadwah yang baru Akh Rica Winsyah (FP’06) beserta tim barunya kita ucapkan selamat menjalankan amanah dakwah, semoga dakwah kampus akan semakin kokoh kedepannya..

Catatan kepengurusan sebelumnya, semoga menjadi acuan awal dalam bergerak kedepannya..

Hasil evaluasi kepengurusan 2008-2009 menunjukkan paling tidak ada tiga point penting dalam evaluasi nadwah yang menyangkut pembinaan internal, AMKAI, dan Pusat Komunikasi Daerah (Puskomda). Perbaikan pembinaan internal seperti dalam proses kaderisasi adalah sebuah kunci dari organisasi. Tidak dapat disangkal lagi bahwa Nadwah sering kali kehilangan kader karena pembinaan dan penjagaan yang kurang baik. ”Di awal kepengurusan jumlah pengurus yang terdata cukup banyak, namun diakhir kepengurusan ternyata tinggal berapa yang aktif?”. ADK adalah manusia biasa yang perlu diperlakukan selayaknya manusia! Yang membutuhkan motivasi ketika kemalasan datang, diingatkan ketika banyaknya aktivitas yang membuat terbengkalainya amanah, dan lain sebagainya. Apa yang terjadi selama ini? Saat ini kaderisasi Nadwah belum mampu mewujudkan itu semua.. Perbaikan-perbaikan terus menerus dilakukan, pematangan konsep, grand desain departeman PPSDM pun sudah mualai dibahas secara serius! Suatu harapan besar agar alur kaderisasi wajihah LDK ini kedepan bisa membentuk kader-kader yang memadai dalam mengemban amanah di dakwah ammah ini.

AMKAI juga menjadi isu penting, keinginan yang besar untuk memperluas dakwah sampai ke Unsri ekstension yang kampusnya berada di Palembang telah dibuka lebar oleh pihak rektorat tapi dikarenakan sistem yang ada masih belum mampu berjalan dengan baik sehingga membuat kesulitan dalam mengambil kebijakan, sehingga berakibat kepada tidak maksimalnya AMKAI di Unsri ekstension. ’Legalisasi’ AMKAI yang sampai saat ini masih sebatas perkataan tanpa ada kesepakatan hitam di atas putih membuat legalisasinya masih dipertanyakan keabsahannya? Adanya dosen MKU Agama Islam yang tidak mau menerima nilai AMKAI dan tidak mau tahu menahu tentang AMKAI merupakan kondisi nyata saat ini.. Buku AMKAI yang tujuannya bisa membantu pendanaan dalam pelaksanaan AMKAI itu sendiripun malah membuat Nadwah (BSOM-red) malah menubah fokusnya yang seharusnya membahas pelaksanaan dan follow up AMKAI secara baik dan tekendali malah menjadi mencari dana untuk mengembalikan pinjaman yang jumlahnya tidak sedikit.. Belum lagi evaluasi kualitas dan kuantitas tutor yang masih belum memadai. ’Tutor yang berkaliber Murobbi’ yang didengung-dengungkan selama ini pun terkesan hanya sebatas wacana! Sanggar tutor yang seharusanya menjadi ajang ’curhat’ dalam pembelajaran menjadi seorang tutor pun tidak berjalan maksimal.. Akibatnya hasil DPP1 maupun DPP2 pun tidak jelas keberadaannya.. Sungguh permasalahan yang sangat kompleks yang harus segera sama-sama kita cariakan solusinya!

Semenjak adanya Puskomda FSLDK Sumsel-Babel sampai sekarang berubah menjadi Puskomda Sumsel saja Nadwah selalu diamanahkan sebagai Koordinator Puskomda FSLDK Sumsel. Hasil evaluasi perjalanan Puskomda pada periode sebelumnya maka diambil kebijakan untuk mengamanahkan Tim Puskomda FSLDK Sumsel kepada alumni Nadwah yang tidak berada di kepengurusan lagi tetapi masih aktif kuliah. Dalam perjalanannya kerja-kerja yang dilakukan tidaklah optimal adanya. Komunikasi-koordinasi dengan kepengurusanpun jarang terjadi. Puskomda yang seharusnya terus memantau perkembangan Lembaga Dakwah Kampus pada setiap daerah yang ada di Sumsel, dalam perjalanannya terkesan ”menunggu” kondisi sekitar.. Kalau ada LDK yang membutuhkan baru ada respon dari Puskomda sedangkan kalau tidak ada maka Puskomda pun cenderung pasif. Padahal Awal tahun 2010 ini akan ada FSLDKD Sumsel yang diamanahkan kepada LDK Ukhuwwh Unbara Baturaja, tetapi komunikasi puntidak terlaksana. Kekhawatiran yang tidak berlebihan bila kita sebagai pengurus Nadwah turut ambil bagian untuk menyikapinya..

Pengurus Baru, Bawa Semangat Perubahan

Sebuah amanah besar kepada Tim Ahlul Hali Wal Aqdi untuk mengkonsep kinerja Nadwah selama satu tahun ke depan, kemana akan diarahkan?. Wacana-wacana yang berkembang cukup banyak mulai dari akan ada peleburan antara departemen Komdatin dan Badan Semi Otonom InFocus (BSOI) sampai membentuk departemen baru yang fokus menggarap Ilmy; Departemen Akademik dan Profesi (Akspro). Lalu ada juga wacana untuk melakukan perubahan nama Sekertaris Umum menjadi Sekertaris Jenderal yang lebih banyak mengurusi internal Nadwah. Adanya keinginan agar LDK melakukan perhatian khusus kepada Lembaga Dakwah Fakultas (LDF) yang bernaung dalam wadah Forum Lembaga Dakwah Unsri (FLDU), yang baru sekali pertemuan mas’ulnya terlaksana, itupun tidak dihadiri secara penuh oleh setiap perwakilan LDF yang ada.

Perubahan-perubahan yang terjadi pada Anggaran Dasar (AD), Anggaran Rumah Tangga (ART) dan Garis Besar Haluan Program Kerja Organisasi (GBHPKO), yang intinya suatu harapan besar agar Nadwah kedepan bisa lebih baik…

Akhirnya sebuah harapan besar bagi kita semua agar kita semua mampu untuk menjalankan konsep-konsep baru yang telah dibuat sebaik mungkin.. Hamasah!!!

Antara Da’awi, Siyasi, dan Akademik dalam Dakwah Kampus

Sejatinya dakwah kampus adalah fasilitator untuk kita lebih mengenal dinamika dakwah yang sesungguhnya (paska kampus-red)..Usia dakwah dikampus hanyalah sementara! sementara amaliyah kita akan sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Dakwah kampus akan sangat berbeda dengan dakwah sekolah tapi dakwah kampus mematangkan pengenalan seorang kader terhadap masyarakat yang lebih luas.

Bicara tentang dakwah kampus, maka kita paling tidak kita akan bicara tiga hal; pelaku (subjek), objek, dan metoda (manhaj). Menurut hemat ana parameter utama keberhasilan dakwah kampus terletak pada subjek/ pelakunya (Apakah dia dekat dengan Allah???) dan metoda yang digunakan (tidak tradisional dan konvensional).

Kita ketahui bersama paling tidak ada tiga ranah dakwah kampus; da’awi, siyasi dan ‘ilmy (akademik). Seorang Aktivis Dakwah Kampus (ADK) harus tawazun, seimbang antara peran da’awi, peran siyasi, dan akademik. Artinya, seorang aktivis dakwah kampus harus memiliki kemampuan dakwah dan tarbiyah, kemampuan mengusung perubahan di masyarakat, tanpa mengurangi prestasi akademik. Bahkan kalau perlu justru meningkatkan prestasi akademik, karena sejatinya dakwah itu adalah keteladanan.

Tapi secara kelembagaan, sebuah lembaga dakwah kampus ada tahapan dalam menyeimbangkan ketiga hal tersebut. Tahapan awal yang harus dilalui adalah penetrasi dalam peran da’awi, artinya kaderisasi dan pembinaan sangat ditekankan pada sebuah lembaga dakwah kampus yang baru berdiri. Jika sudah matang, maka baru bisa beranjak kepada peran siyasi dan akademik. Antara kedua hal ini, sejatinya akademik lebih diutamakan. Tapi kadangkala, realita memaksa siyasi untuk didahulukan. Hal inilah yang terjadi di kampus kita tercinta (Unsri-red). Sehngga walaupun kampus sudah mengupayakan Ilmy dari tahun 2005 tapi sampai saat ini peran strategis dari ilmy belumlah maksimal. Hal ini bisa kita lihat dari belum adanya wajihah ilmy di kampus..

Belum lagi qodhoya-qodhoya dakwah kampus; realita yang menunjukkan lunturnya semangat ruhiyah para pelaku dakwah kampus dan kecenderungan ADK sekarang yang kurang berpartisipasi secara maksimal di kampus.. Ana bisa katakan apapun ranahnya da’awi, siyasi maupun ilmy semuanya berpeluang untuk menurunkan ruhiyah.. Tapi yang paling berpotensi menurunkan ruhiyah, memanglah ranah siyasi. Untuk itu, kaderisasi harus bisa membackup semua ADK yang berada di semua ranah, khususnya ranah siyasi. Backup dapat berupa intensifikasi tarbiyah ruhiyah bagi ADK yang ada di siyasi, buletin2 ruhiyah, taujih2, mabit2, dll.. Inilah salah satu bentuk amal jama’i. Namun seorang ADK di siyasi jangan sepenuhnya mengharapkan backup, karena sejatinya dia harus bisa memiliki imun terhadap situasi sekitar. Maksudnya, Tarbiyah Dzatiyah harus terus menerus dilakukan…

Intinya dimana pun kita berada diamanahkan itu adalah amanah dakwah, artinya suatu keberuntungan menjadi salah satu pelaku sejarah perubahan (tagyir) dikampus. Mari torehkan tinta emas dikampus kita. Sesungguhnya Allah tidak melihat hasil namun bagaimana proses yang kita lakukan…pun amanah dakwah itu sangat mempunyai peran sebagai pematangan tarbiyah seorang kader.

Yakinkan pada diri kita bahwa kitalah yg membutuhkan dakwah, bukan dakwah yg membutuhkan kita…

Wallahualam…

Pertanggungjawaban Amanah

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar’. (QS. Ali Imron : 147)

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS Al-Baqoroh:214)

Ikhwatifillah. ..

Baik kita lewati secara sadar, setengah sadar, maupun tidak sadar akan perjalanan periode dakwah 2008-2009 ini ternyata kita sudah berada di ujung waktu. Bertolak pada Musra NADWAH VIII pada 5-6 Juli 2008 di Aula Magister Manajemen UNSRI Bukit yang lalu . Maka insyaAllah lusa, Sabtu-Ahad 24-25 Oktober 2009  di Aula FKIP Ekstensi Bukit besar kita akan mempertanggungjawabkan kembali segala amal jama’i ini dihadapan saudara-saudara kita sekalian sebelum di akhirat kelak. Segala hal pemaksaan, keterpaksaan, atau dipaksakan terhadap diri dan aktivitas dakwah ini semoga mendapat balasan yang sebanding dari Rabb kita.. Aamiin!

Yakinlah bahwa ikhtiar dan usaha kita telah maksimal; berusaha sebisa mungkin, menyisihkan waktu, tenaga dan pikiran kami demi kemajuan NADWAH UNSRI, sebab kami berprinsip bahwa kader-kader dakwah bukanlah manusia-manusia yang diciptakan  untuk bermalas-malasan, tapi harus menjadi garda terdepan dalam segala aktifitas kemanusiaan. Manjadi motor penggerak setiap kebaikan dan penabur benih-benih kesejahteraan di tengah masyarakat,dan prinsip kami bahwa ilmu tidaklah harus disemai hanya dibangku kuliah, akan tetapi setiap senti dari bumi Allah ini ada ilmunya sebagaimana forum atau oraganisasi ini telah memberikan banyak pelajaran bagi kami, ketahuilah tidaklah kita dengan organisasi ini mampu memudahkan saudara kita kecuali Allah akan memudahkan segala urusan dunia dan akhirat kita,  Allah SWT  tidak meminta hasil tapi mempertanyakan usaha dan kerja kita..

Ikhwatifillah. ..

Satu episode kehidupan yang telah kita lalui bersama sepanjang 2008-2009 tentunya banyak sekali kedzholiman- kedzholiman yang telah ane lakukan pada antum, semoga antum sudi memaafkan sebelum beristighfar pada Allah semesta alam. Segala kegagalan yang ada di periode ini semoga dapat dijadikan ibrah pelajaran sekaligus PR untuk kepengurusan kedepan.

Amal kolektif ini akan kita pertanggungjawabkan bersama di akhirat kelak, setiap individu akan mendapatkan balasan sesuai dengan  apa yang disumbangkan bagi dakwah ini sekecil apapun bentuknya. Walaupun ane kurang mengenal antum ataupun sebaliknya, tapi ketahuilah pasti Allah mengenal antum sehingga tidak ada amal yang disia-siakan oleh-Nya. Selanjutnya, mari kita beristighfar bersama atas dosa kolektif yang pernah kita buat. Semoga Allah menerima amal kita dan memberikan kemudahan ketika di pengadilan akhirat kelak. Amin..

Fenomena Pulang Kampung Aktivis Dakwah Kampus

Libur pulang kampung, memang selalu menjadi hal yang ditunggu oleh mahasiswa Indonesia pada umumnya dan mahasiswa Unsri pada khususnya.. Saat libur merupakan waktu yang tepat untuk mengistirahatkan diri,  merekreasikan pikiran dan menyegarkan kembali raga, setelah berlelah-lelah kuliah. Satu tindakan yang mewakili semua kata-kata menyegarkan itu adalah MUDIK pulang kampung.

Tidak ada yang salah dengan pulang kampung. Malah pulang kampung memiliki nilai lebih bagi para Aktivis Dakwah Kampus (ADK). Bagi kader dakwah pulang kampung lebih dari sekedar istirahat, rekreasi, dan penyegaran namun merupakan kesempatan membuka ladang amal baru. Banyak yang mengatakan liburan dan pulang kampung sebagai momen untuk berdakwah kepada keluarga atau juga bersilahturahim dengan aktivis-aktivis dakwah di daerahnya untuk saling memberi semangat atau juga berdakwah di masjid dekat rumah dengan mangajar ngaji atau juga sekedar memperbaiki diri-menambah hafalan Alquran, dsb.

Namun fenomena yang banyak terjadi justru sebaliknya, para aktivis dakwah yang getol berdakwah di kampus justru melempem saat berada di kampung. Jangankan berdakwah ke orang banyak atau keluarga, semangat dan kondisi ruhiyah pribadi pun malah cenderung menurun. Jangankan mengajak orang untuk berbuat baik, membawa diri untuk shalat berjamaah di masjid pun berat. Jangankan mengajari orang untuk mengaji, membaca buku untuk memperdalam ilmu saja malas.

Fenomena di atas dapat terjadi pada dasarnya karena luruhnya motivasi atau semangat untuk berdakwah. Semangat berdakwah di kampus timbul karena adanya lingkungan kampus kondusif, sehingga merangsang untuk melakukan aktivitas dakwah, serta adanya aktivis dakwah lain yang sama-sama berjuang, sehingga ketika di kampus seorang ADK tidak merasa sendirian. Tetapi dikampung berbeda ceritanya. Tidak ada orang yang bisa memberi semangat atau bahkan tidak ada yang tahu bahwa kita aktivis dakwah, maka pikiran bahwa ”tugas berdakwah bisa dinafikan dulu” atau ”libur dakwah dulu” bisa muncul. Jadinya luruhlah semangat dakwah itu, bahkan mungkin kefuturan yang menanti. naudzu billahi min dzalik.

Untuk menghindari hal tersebut diatas ada beberapa hal yang bisa dilakukan: pertama, tanamkan benar-benar prinsip Nahnu du’at qobla kulli syai’i (jadilah da’i sebelum sesuatu yang lain) kedalam diri ini ; Kedua, luruskan segala tujuan dakwah, bahwa segala yang kita perbuat hanya untuk Allah ta’ala. Sehingga ada atau tidak adanya orang yang melihat amalan dakwah kita, kita senantiasa akan tetap berdakwah ; ketiga, sesuai dengan sabda Rasulullah saw, “Ada dua kenikmatan yang membuat banyak orang terpedaya yakni nikmat sehat dan waktu senggang” (HR. Bukhari), sehingganya jangan sampai waktu liburan kita begitu kosong tanpa kegiatan yang bermanfaat, jadi buatlah rencana dan targetan selama liburan; keempat, ikatlah komitmen dengan teman atau sahabat kita dalam mencapai targetan liburan.

Wallahu’alam bishowab

« Entri lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.